Minggu, 17 April 2011

PRIVASI

Privasi merupakan tingkatan interkasi keterbukaan atau yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan yaitu adanya keinginan berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).

Rapoport (dalam soesilo, 1988) mendefinisikan pricasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk memcapai interaksi seperti yang dinginkan. Hal ini agak berbeda dengan yang dikatakan oleh Marshall (dalam Wrightman dan Deaux, 1981), dan ahli-ahli lain seperti Bates, 1984; Kira, 1966 dalam Altman, 17975 yang mengatakan bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari ketelibatan dengan orang lain dan sosialnya.

Menurut Altman privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan orang lain. Definisi ini mengandung beberapa pengertian yang lebih luas. Pertama, unit soaial yang digambarkan bisa berupa hubungan antara individu denagn individu, individu dengan kelompoknya dan seterusnya. Kedua, penjelasan privasi sebagai proses dua arah: yaitu pengontrolan input yang masuk ke individu dari luar atau output dari individu ke orang lain. Ketiga, definisi ini menunjukkan suatu kontrol yang selektif atau suatu proses yang aktif dan dinamis.

Kemudian Altman menjelaskan beberapa fungsi privasi. Pertama, privasi adalah pengaruh dan pengontrol interkai interpersonal. Kedua, merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain. Dan ketiga, memperjelas konsep diri dan identitas diri.

Dalam hubungannnya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya. Ada saat-saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan menyendiri serta terpisah dari orang lain (privasi tinggi). Untuk mencapai hal tersebut, dia akan mengontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku, yang digambarkan oleh Altman sebagai berikut:

a) Perilaku verbal

Dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal, sejauh mana orang lain boleh berhubungan dengannya.

b) Perilaku non verbal

Dilakukan dengan menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidak senang.

c) Mekanisme kultural

Budaya mempunyai bermacam-macam adat istiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui oleh banyak orang pada budaya tertentu (Altman, 1975; Altman & Chemers dalam Dibyo Hartono, 1986).

d) Ruang prsonal

Yaitu salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Sommer (dalam Altman, 1975) mendefinisikan beberapa karakteristik ruang personal. Pertama, daerah batas diri yang diperbolehkan dimasuki oleh orang lain. Kedau, ruang personal itu tidak berupa pagar yang tampak mengelilingi seseorang dan terletak pada suatu tempat tetapi batas itu melekat pada diri dan dibawa kemana-mana. Ketiga, sama denga privasi ruang personal adalah batas kawasan yang dinamis, yang erubah-ubah besarnya sesuai dengan waktu dan situasi.

Holahan (1982) menyatakan enam jenis privasi, yaitu

1) Keinginan untuk menyendiri,

2) Keinginan untuk menjauhi pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas,

3) Kecenderunag untuk intim terhadap orang-orang tertentu (keluarga), tetapi jauh dari semua orang lain,

4) Keinginan untuk merahasiakan jati diri agar tidak dikenal orang lain,

5) Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak,

6) Keinginan untuk tidak terlibat denga tetangga.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Privasi

Faktor Personal. Marshall (dalam Gifford, 1987) menyatakan baahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi.

Sementara itu Alden dan kawan-kawan (dalam Gifford, 1987) menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi.

Faktor Situasoanal. Beberapa hasil penelitian tentang privasi dala dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan denga seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987).

Penelitian Marshall (dalam Gifford, 1987) tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi dalam rumah antara lain disebabkan oleh setting rumah. Setting disini sangat berhubungan seberapa sering para penghuni berhubungan dengan orang, jarak antar rumah dan banyaknya tetangga sekitar rumah.

Faktor budaya. Penemuan dari beberapa peneliti tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku iban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).

2. Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku

Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah untuk mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial.

Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mencatat bahwa pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalam tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan.

Westin (dalam Holahan, 1982) mengatakan bahwa ketertutupan terhadap informasi personal yang selektif, memenuhi kebutuhan individu untuk membagi kepercayaan denga orang lain.

Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh Westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari.

Selain itu, rivasi juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi, yaitu menganal dan menilai diri sendiri (Altman, 1975; Sarwono, 1992; Holahan, 1982). Proses mengenal dan menilai diri sendiri diri ini tergantung pada kemampuan untuk mengatur sifat dan gaya interaksi sosial dengan orang lain.

PERSONAL SPACE (RUANG PERSONAL)

Istilah personal space atau ruang personal pertama kali digunakan oleh Katz pasa tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling sesorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Golfman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadag menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian,m antara lain:

Pertama, ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang

lain.

Kedua, ruang personal sebenarnya berdekatang dengan diri sendiri.

Ketiga, pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.

Keempat, ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.

Kelima, ruang personal berhubungan secaa langsung dengan jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan saling membelakangi, dan searah.

Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bhawa dalam interaksi sosial terdapat 4 zona spasial meliputi: jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik.

Pertama, jarak intim adalah jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0-18 inchi. Menurut Hall pada jarak akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas sekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukkan pancaindera.

Zona kedua adalah personal distance(jarak pribadi), yang memiliki jarak antara 1,5 – 4 kaki. Jarak ini adalah karakteristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. Gangguan di luar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua: fase dekat (1,5-2,5 kaki) dan fase jauh (2,5-4 kaki).

Daerah ketiga adalah jarak sosial (social distance), yang mempunyai jarak 4 - 25 kaki dan merupakan jarak kauh normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis.

Fase yang ketiga adalah fase jauh atau dalam jarak 7 – 12 kaki, seringkali lebih formal, dimana pengamatan visual terinci seringkali terlewatkan, meskipun seluruh tubuh orang lain dapat dengan mudah dilihat.

Daerah yang terakhir adalah Zona Publik, yaitu pada jarak 12 – 25 kaki atau jarak dimana isyarat-isyarat komunikasi lebih sedikit dibandingkan dengan daerah-daerah terdahulu.

Minggu, 27 Maret 2011

Kesesakan dan Kepadatan

KEPADATAN

1. Pengertian

Kepadatan atau density ternyata mendapat perhatian serius dari para ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundtrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightman & Deaux, 1981). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat jika jumlah individu dalam batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan jumlah luasnya (Sarwono, 1992).

Penelitian tentang kepadatan p;ada manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif dari kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil penelitian menunjukkan adanya perilaku kanibal pada tikus seiring semakin bertambahnya jumlah tikus (dalam Worchel dan Choper, 1983). Secara terinci hasil penelitian Caloun (dalam Setiadi, 1991) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

1. Dalam jumlah yang tidak padat, kondisi fisik dan perilaku tikus berjalan normal. Tikus-tikus itu dapat melakukan perkawinan, membuat sarang, melahirkan, dan membesarkan anak-anaknya seperti halnya kehidupan alamiahnya.

2. Dalam kondisi kepadatan tinggi dengan pertumbuhan populasi yang tak terkendali, ternyata memberikan dampak negatif bagi tikus-tikus itu. Terjadi penuruna fisik pada ginjal, otak, hati, dan jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hyperaktif, homoseksual, dan kanibal. Akibat keseluruhan dampak negatif tersebut, menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi.

Penelitian terhadap manusia yang pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci : bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana terhadaa Task Performance (kinerja tugas)? Hasilnya memperlihatkan banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan :

1) Ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung, tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.

2) Peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (dalam kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali. Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.

3) Terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil keja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa dampak negatif kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negatif pada kepadatan tinggi dibandingkan wanita. Pria juga bereaksi lebih negatif terhadap anggota kelompok, baik pada kepadatan tinggi atau rendah dan wanuta justru lebih anggota kelompoknya pada kepadatan tinggi.

2. Kategori Kepadatan

Kepadatan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, Holahan (1982) menggolongkan kepadatan menjadi 2 kategori, yaitu kepadatan spasial yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih sempit atau lebih kecil sementara jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang, dan kepadatan sosial yang terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi denga penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu. Alman (1975) membagi kepadatan menjadi kepadatan dalam yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan dalam rumah, kamar; dan kepadatan luar yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

C. Akibat-akibat Kepadatan

Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain,(Heimstra dan McFarling, 1978).

Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjdi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1987).

Akibat secara psikis antara lain :

a. Stress, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stres (Jain, 1987), dan perubahan suasana hati (Holahan, 1982).

b. Menarik diri, kepadatan tinggi cenderung menyebabkan individu menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).

c. Perilaku menolong, kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau memberi bantuan ada orang lain yang membutuhkan, terutama orang tdak dikenal (Holahan, 1982; Fisher dkk, 1984).

d. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982)

e. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu menumbuhkan frustasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

Analisa:

Kepadatan menimbulak banayk hal-hal yang negatif, yaitu :

1. Ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung, tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.

2. Peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (dalam kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali. Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.

3. Terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil keja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Kepadatan terdiri dari kepadatan spasial, sosial, dalam, dan luar. Akibat kepadatan secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain,(Heimstra dan McFarling, 1978).

Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjdi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1987).

Akibat secara psikis antara lain :

a. Stress, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stres (Jain, 1987), dan perubahan suasana hati (Holahan, 1982).

b. Menarik diri, kepadatan tinggi cenderung menyebabkan individu menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).

c. Perilaku menolong, kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau memberi bantuan ada orang lain yang membutuhkan, terutama orang tdak dikenal (Holahan, 1982; Fisher dkk, 1984).

d. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982)

e. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu menumbuhkan frustasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

KESESAKAN

1. Pengertian

Menurut Altman, yaitu suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia sati dengan yang lain dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.

Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilain individu berdasarkan 4 faktor, yaitu:

a. Karakteristik setting fisik

b. Karakteristik setting sosial

c. Karakteristik personal

d. Karakteristik beradaptasi

Stokols (dalam Altman, 1975) membedakan antara kesesakan bukan sosial yaitu dimana faktor-faktor fisik merasakan perasaan terhadap orang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruangan yang sempit, dan kesesakan sosial yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu bayak. Stokols juga menambahkan perbedaan antara kesesakan molekuler dan molar. Kesesakan molar yaitu perasaan sesak yang dapat dihubungkan denga skala luas, penduduk kota, sedangkan kesesakan molekuler yaitu perasaan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok kecil, dan kejadian-kejadian interpersonal.

Pengaruh negatif kesesakan tercermin dalam bentuk-bentuk psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasaan kurang nyaman, stress, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan belajar menurun, agresivitas meningkat, dan bahkan gangguan mental yang serius.

Kalau pengaruh ke fisiologis adalah meningkatnya tekanan darah dan jantung, gejala-gejala psikosomatik, dan penyakit-penuakit yang serius (Worchel dan Cooper, 1983).

Perilaku sosial yang sering kali timbul karena situasi sesak adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan, 1982).

Ancok (1989), perasaan sesak di dalam rumah akan menimbulkan beberapa masalah, yaitu:

1. Menurunnya frekuensi hubungan seks

2. Memburuknya interaksi suami istri

3. Memburuknya cara pengasuhan anak

4. Memburuknya hubungan dengan orang-orang di luar rumah

5. Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa

Analisa:

Proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilain individu berdasarkan 4 faktor, yaitu:

a. Karakteristik setting fisik

b. Karakteristik setting sosial

c. Karakteristik personal

d. Karakteristik beradaptasi

Selasa, 22 Februari 2011

Tingkah Laku terjadi Akibat dari fungsi pribadi dan lingkungan

Tingkah Laku terjadi Akibat dari Fungsi Pribadi dan Lingkungan

Tingkah laku sesorang dapat terjadi akibat fungsi pribadi dan lingkungan. Contohnya, sepupu saya yang paling kecil yang bernama Erry Novi Ramadhani. Dia dilahirkan 18 November 2002 di Jakarta. Pada umur 1 tahun dia dibawa ibunya ke tempat kakeknya di Purwerejo. Ibunya bernama Sri Sapto Riyantini tidak lain adalah adik ibu saya, sehingga saya memanggilnya Mbak Yanti. Beliau pindah setelah bercerai dengan suaminya yang berprofesi sebagai prajurit TNI AD. Erry tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Pada awalnya dia sangat sulit untuk berkomunikasi dengan teman-teman sebaya dan tetangga sekitarnya yang menggunakan bahasa Jawa. Tapi, 2 tahun kemudian dia sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan teman-teman sebaya dan tetangganya. Walaupun ada sedikit kata-kata dia yang masih menggunakan bahasa Indonesia. Dia juga keturunan Jawa dari kakek dan (almh) sang nenek. Tingkah lakunya juga mengikuti teman-te,an sebayanya seperti main congklak, main karet, dll. Kadang sewaktu liburan semester, dia beserta ibu dan kakeknya berkunjung ke rumah saudara-saudaranya yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tingkah laku sesorang dapat terjadi akibat fungsi pribadi dan lingkungan dimana dia tinggal dan menetap.