Namanya IRMA (Ikatan Remaja Masjid Almu’minun). IRMA berdiri pada tahun 1990, awalnya pada ngumpul remaja-remaja di RW 14 di Margahayu Jaya waktu bulan Ramadhan. Perkembangan IRMA, awalnya anggotanya 10 orang, sekarang anggotanya berjumlah 25 orang. Pendirinya yaitu Bapak Tohir, salah satu warga di RW 14. Lalu kemudian Kak David, Kak Surya, Aldis, dan yang sekarang Arif Saefuddin. Yang paling lama menjabat sebagai ketua adalah Arif karena tidak ada penggantinya. Kegiatan yang pernah dilakuin yaitu baksos di salah satu yayasan yang ad di daerah Bekasi, Rihlah (survival), Pesantern Kilat, JELMA, S5G (Silaturahmi 5 Generasi), dan sebagainya. Struktur keanggotannya:
Ketua: Arif Saepuddin
Sekretaris: Syifa Nur Mayasari dan Ratna Komala Dewi
Pergantian ketua dilakukan setiap 5 tahun sekali. IRMA paling intensif saat bulan Ramadhan, tapi di luar bulan Ramadhan tetap kumpul seperti dilakukan arisan tiap bulan, KIPAS (Kajian Islam pasca Ashar) tiap minggu ke-2 dan ke-4, dll. IRMA tiap tahun juga mengajak remaja-remaja di sekitar RW 14 untuk kaderisasi selanjutnya. Tapi yang benar-benar ingin ikut hanya sedikit saja. Namun,
Keuntungan mengikuti IRMA adalah belajar untuk berorganisasi, belajar bicara di depan forum, berani mengutarakan pendapat, bekerja sama dengan teman-teman, menambah pergaulan dengan remaja-remaja masjid lainnya di Perumahan Margahayu Jaya, dll. Hal-hal yang pernah tercapai oleh IRMA adalah juara 2 MTQ tingkat kelurahan pada tahun 2005 , juara 3 lomba cerdas cermat tingkat kelurahan, dan mengadakan S5G IRMA dari angkatan 1990 s.d 2010. Untuk 2006 keatas belum dapat penghargaan apapun. Itu juga yang datang hanya 60% saja dari 100 undangan yang disebar ke semua alumni-alumni IRMA.
Di dalam forum/rapat IRMA juga sering terjadi beda pendapat antara satu orang dengan yang lain, tapi bisa di netralkan oleh ketua dengan cara mengambil jalan tengahnya atau voting. IRMA hanya exist pada waktu bulan Raadhan saja karena semua anggota-anggotanya mempunyai aktivitas masing-masing seperti sekolah, kuliah, dan kerja. Tapi kalau ada rapat-rapat, mereka disahakan datang.
Autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Perpasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Diagnosa Autisme Sesuai DSM IV
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1.Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2.Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3.Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4.Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1.Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2.Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3.Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4.Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1.Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2.Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3.Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Perpasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
Gejala
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.
Diperkirakan terdapat 400.000 individu dengan autisme di Amerika Serikat. Sejak tahun 80 – an, bayi-bayi yang lahir di California – AS, diambil darahnya dan disimpan di pusat penelitian Autisme. Penelitian dilakukan oleh Terry Phillips, seorang pakar kedokteran saraf dari Universitas George Washington. Dari 250 contoh darah yang diambil, ternyata hasilnya mencengangkan; seperempat dari anak-anak tersebut menunjukkan gejala autis. NationalInformationCenter for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) memperkirakan bahwa autisme dan PDD pada tahun 2000 mendekati 50 – 100 per 10.000 kelahiran. Penelitian Frombonne (Study Frombonne: 2003) menghasilkan prevalensi dari autisme beserta spektrumnya (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah: 60/10.000 – best current estimate dan terdapat 425.000 penyandang ASD yang berusia dibawah 18 tahun di Amerika Serikat. Di Inggris, data terbaru adalah: 62.6/10.000 ASD. Autisme secara umum telah diketahui terjadi empat kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan yang terjadi pada anak perempuan. Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti. Saat ini para ahli terus mengembangkan penelitian mereka untuk mengetahui sebabnya sehingga mereka pun dapat menemukan ‘obat’ yang tepat untuk mengatasi fenomena ini. Bidang-bidang yang menjadi fokus utama dalam penelitian para ahli, meliputi; kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan dalam otak yang bersifat biokimia. Dr. Ron Leaf saat melakukan seminar di Singapura pada tanggal 26 – 27 Maret 2004, menyebutkan beberapa faktor penyebab autisme, yaitu:
Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
Meskipun para ahli dan praktisi di bidang autisme tidak selamanya dapat menyetujui atau bahkan sependapat dengan penyebab-penyebab di atas. Hal terpenting yang perlu dicatat melalui hasil penelitian-penelitian terdahulu adalah bahwa gangguan autisme tidak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat psikologis, misalnya karena orang tua tidak menginginkan anak ketika hamil.
Bagaimana di Indonesia? Belum ditemukan data yang akurat mengenai keadaan yang sesungguhnya di Indonesia, namun dalam suatu wawancara di Koran Kompas; Dr. Melly Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua dari Yayasan Autisme Indonesia menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. “Bila sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat menjadi satu per 500 anak” (Kompas: 2000). Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staf bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak penyandang autisme di Indonesia. Jumlah tersebut menurutnya setiap tahun terus meningkat. Hal ini sungguh patut diwaspadai karena jika penduduk di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 160 juta, kira-kira berapa orang yang terdata sungguh-sungguh menyandang austime beserta spektrumnya?
Secara historis, diagnosa autisme memiliki persoalan; suatu ketika para ahli dan peneliti dalam bidang autisme bersandarkan pada ada atau tidaknya gejala, saat ini para ahli dan peneliti tampaknya berpindah menuju berbagai karakteristik yang disebut sebagai continuum autism. Aarons dan Gittents (1992) merekomendasikan adanya descriptive approach to diagnosis. Ini adalah suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa sehingga menyertakan observasi-observasi yang menyeluruh di setting-setting sosial anak sendiri. Settingya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai lingkungan sehari-hari anak dimana hambatan maupun kesulitan mereka tampak jelas diantara teman-teman sebaya mereka yang ‘normal’.
Persoalan lain yang mempengaruhi keakuratan suatu diagnosa seringkali juga muncul dari adanya fakta bahwa perilaku-perilaku yang bermasalah merupakan atribut dari pola asuh yang kurang tepat. Perilaku-perilaku tersebut mungkin saja merupakan hasil dari dinamika keluarga yang negatif dan bukan sebagai gejala dari adanya gangguan. Adanya interpretasi yang salah dalam memaknai penyebab mengapa anak menunjukkan persoalan-persoalan perilaku mampu menimbulkan perasaan-perasaan negatif para orang tua. Pertanyaan selanjutnya kemudian adalah apa yang dapat dilakukan agar diagnosa semakin akurat dan konsisten sehingga autisme sungguh-sungguh terpisah dengan kondisi-kondisi yang semakin memperburuk? Perlu adanya sebuah model diagnosa yang menyertakan keseluruhan hidup anak dan mengevaluasi hambatan-hambatan dan kesulitan anak sebagaimana juga terhadap kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan anak sendiri. Mungkin tepat bila kemudian disarankan agar para profesional di bidang autisme juga mempertimbangkan keseluruhan area, misalnya: perkembangan awal anak, penampilan anak, mobilitas anak, kontrol dan perhatian anak, fungsi-fungsi sensorisnya, kemampuan bermain, perkembangan konsep-konsep dasar, kemampuan yang bersifat sikuen, kemampuan musikal, dan lain sebagainya yang menjadi keseluruhan diri anak sendiri.
Bagi para orang tua dan keluarga sendiri perlu juga dicatat bahwa gejala autisme bersifat individual; akan berbeda satu dengan lainnya meskipun sama-sama dianggap sebagai low functioning atau dianggap sebagai high functioning. Membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya dan konsistensi untuk dalam penanganannya sehingga perlu disadari bahwa bahwa fenomena ini adalah suatu perjalanan yang panjang. Jangan berhenti pada ketidakmampuan anak tetapi juga perlu menggali bakat-bakat serta potensi-potensi yang ada pada diri anak. Sebagai inspirasi kiranya dapat disebutkan beberapa penyandang autisme yang mampu mengembangkan bakat dan potensi yang ada pada diri mereka, misalnya: Temple Grandine yang mampu mengembangkan kemampuan visual dan pola berpikir yang sistematis sehingga menjadi seorang Doktor dalam bidang peternakan, Donna William yang mampu mengembangkan kemampuan berbahasa dan bakat seninya sehingga dapat menjadi seorang penulis dan seniman, Bradley Olson seorang mahasiswa yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan kebugaran fisiknya sehingga menjadi seorang pemuda yang aktif dan tangkas dan mungkin masih banyak nama-nama lain yang dapat menjadi sumber inspirasi kita bersama. Pada akhirnya, sebuah label dari suatu diagnosa dapat dikatakan berguna bila mampu memberikan petunjuk bagi para orang tua dan pendidik mengenai kondisi alamiah yang benar dari seorang anak. Label yang menimbukan kebingungan dan ketidakpuasan para orang tua dan pendidik jelas tidak akan membawa manfaat apapun.
Tahun 1960 penanganan anak dengan autisme secara umum didasarkan pada model psikodinamika, menawarkan harapan akan pemulihan melalui experiential manipulations (Rimland, 1964). Namun demikian model psikodinamika dianggap tidak cukup efektif. Pada pertengahan tahun 1960-an, terdapat sejumlah laporan penelitian bahwa pelaku psikodinamik tidak dapat memberikan apa yang mereka janjikan (Lovaas, 1987). Melalui berbagai literatur, dapat disebutkan beberapa ahli yang memiliki perbedaan filosofis, variasi-variasi treatment dan target-target khusus lainnya, seperti:
Rimland (1964): Meneliti karakteristik orang tua yang memiliki anak dengan autisme, seperti: pekerja keras, pintar, obsesif, rutin dan detail. Ia juga meneliti penyebab autisme yang menurutnya mengarah pada faktor biologis.
Bettelheim (1967): Ide penyebab autisme adalah adanya penolakan dari orang tua. Infantile Autism disebabkan harapan orang tua untuk tidak memiliki anak, karena pada saat itu psikoterapi yang sangat berpengaruh, maka ia menginstitusionalkan 46 anak dengan autistime untuk keluar dari stress berat. Namun tidak dilaporkan secara detail kelanjutan dari hasil pekerjaannya tersebut.
Delacato (1974): Autisme disebabkan oleh Brain injured. Sebagai seorang Fisioterapi maka Delacato memberikan treatment yang bersifat sensoris. Pengaruh ini kemudian berkembang pada Doman yang dikemudian hari mengembangkan metode Gleen Doman.
Lovaas (1987): Mengaplikasikan teori Skinne dan menerapkan Behavior Modification kepada anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan autistisme di dalamnya. Ia membuat program-program intervensi bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang dilakukannya di UCLA. Dari hasil program-program Lovaas, anak-anak dengan autisme mendapatkan program modifikasi perilaku yang kemudian berkembang secara professional dalam jurnal-jurnal psikologi.
Hingga saat ini terdapat banyak program intervensi perilaku bagi anak dengan autisme, setiap program memiliki berbagai variasi dan pengembangan-pengembangan sendiri sesuai dengan penelitian-penelitan dilakukan. Perkembangan studi mengenai autisme kemudian disampaikan oleh Rogers, Sally J., sebagaimana disebutkan di bawah ini:
1960s Heavy emphasis on causes of autism, correlates of autism
1970s Heavy emphasis on assessment, diagnosis: emerging literature on treatment
1980s Heavy emphasis on functional assessment and treatment, school-based services
1990s Heavy emphasis on social interventions, assessment, school-based services
Intensitas dari treatment perilaku pada anak dengan autisme merupakan hal penting, namun persoalan-persoalan mendasar yang ditemui di Indonesia menjadi sangat krusial untuk diatasi lebih dahulu. Tanpa mengabaikan faktor-faktor lain, beberapa fakta yang dianggap relevan dengan persoalan penanganan masalah autisme di Indonesia diantaranya adalah:
Kurangnya tenaga terapis yang terlatih di Indonesia. Orang tua selalu menjadi pelopor dalam proses intervensi sehingga pada awalnya pusat-pusat intervensi bagi anak dengan autisme dibangun berdasarkan kepentingan keluarga untuk menjamin kelangsungan pendidikan anak mereka sendiri.
Belum adanya petunjuk treatment yang formal di Indonesia. Tidak cukup dengan hanya mengimplementasikan petunjuk teatment dari luar yang penerapannya tidak selalu sesuai dengan kultur kehidupan anak-anak Indonesia.
Masih banyak kasus-kasus autisme yang tidak di deteksi secara dini sehingga ketika anak menjadi semakin besar maka semakin kompleks pula persoalan intervensi yang dihadapi orang tua. Para ahli yang mampu mendiagnosa autisme, informasi mengenai gangguan dan karakteristik autisme serta lembaga-lembaga formal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak dengan autisme belum tersebar secara merata di seluruh wilayah di Indonesia.
Belum terpadunya penyelenggaraan pendidikan bagi anak dengan autisme di sekolah. Dalam Pasal 4 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah diamanatkan pendidikan yang demokratis dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, dukungan ini membuka peluang yang besar bagi para penyandang autisme untuk masuk dalam sekolah-sekolah umum (inklusi) karena hampir 500 sekolah negeri telah diarahkan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan inklusi.
Permasalahan akhir yang tidak kalah pentingnya adalah minimnya pengetahuan baik secara klinis maupun praktis yang didukung dengan validitas data secara empirik (Empirically Validated Treatments/EVT) dari penanganan-penanganan masalah autisme di Indonesia. Studi dan penelitian autisme selain membutuhkan dana yang besar juga harus didukung oleh validitas data empirik, namun secara etis tentunya tidak ada orang tua yang menginginkan anak mereka menjadi percobaan dari suatu metodologi tertentu. Kepastian dan jaminan bagi proses pendidikan anak merupakan pertimbangan utama bagi orang tua dalam memilih salah satu jenis treatment bagi anak mereka sehingga bila keraguan ini dapat dijawab melalui otoritas-otoritas ilmiah maka semakin terbuka informasi bagi masyarakat luas mengenai pengetahuan-pengetahuan baik yang bersifat klinis maupun praktis dalam proses penanganan masalah autisme di Indonesia.
Terapi Bagi Individu dengan Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Berikut ini adalah suatu uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan penjelasan yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini. Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.
Educational Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
Biological Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), meliputi tetapi tidak terbatas pada usaha penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, seperti PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, strategi visual menggunakan gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
Pelayanan Autisme Intensif, meliputi kerja team dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
Terapi yang bersifat Sensoris, meliputi tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), Sensory Integration Therapy (SI) dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme. Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat tidak mungkin mengkontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.
Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai basisnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang tua maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, bila tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang nyata selama 3 bulan dapat melakukan perubahan terapi. Bimbingan dan arahan yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang tua secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya dapat ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para ahli bila terjadi perubahan-perubahan perilaku lainnya.
Ganguan komunikasi yang baik dan ekspresif daerah menerima komunikasi yang mungkin akan terpengaruh di tingkat apapun, dari ringan sampai parah.
Jika seseorang sedang dinilai pada Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler , misalnya, hal ini dapat terlihat dalam skor yang relatif rendah untuk Informasi, Kosakata dan Pemahaman (mungkin di bawah persentil 25. Jika orang tersebut mengalami kesulitan dengan konsep spasial, seperti 'atas', 'bawah', 'di sini' dan 'ada', dia mungkin mengalami kesulitan aritmetika, mengalami kesulitan memahami masalah kata dan instruksi, atau memiliki kesulitan menggunakan kata-kata.
Mereka juga mungkin memiliki masalah yang lebih umum dengan kata-kata atau kalimat, baik pemahaman dan berbicara mereka.
Jika seseorang diduga mengalami gangguan bahasa campuran reseptif-ekspresif, maka mereka dapat pergi ke ahli terapi bicara atau ahli patologi, dan menerima pengobatan. Kebanyakan perawatan jangka pendek, dan bergantung pada akomodasi dibuat dalam lingkungan seseorang, sehingga dapat minimal mengganggu kerja dan fungsi sekolah.
Bahasa reseptif-Ekspresif Disorder didasarkan pada nilai tes standar (misalnya nilai test IQ), serta pada perilaku. Hal ini ditandai dengan penundaan dan penurunan kemampuan bahasa reseptif dimana anak mengalami kesulitan "menerjemahkan" bahasa menjadi informasi yang bermanfaat serta kemampuan bahasa ekspresif di mana anak memiliki kosakata yang terbatas, kesulitan memproduksi kata-kata dan menggunakan kalimat, dan tidak menggunakan tenses dengan benar. Namun, gangguan ini dapat terjadi jika ada beberapa jenis trauma fisik kemudian di masa kanak-kanak, misalnya cedera kepala. With intervention, some children can develop normal language. Dengan campur tangan, beberapa anak dapat mengembangkan bahasa normal. Ini tidak mungkin terjadi pada anak-anak dengan kerusakan otak yang signifikan. If the disorder is severe enough, it may lead to a learning disorder. Jika gangguan tersebut cukup parah, mungkin mengakibatkan gangguan belajar.
DSM-IV deskripsi dari fitur diagnostik Campuran reseptif-Ekspresif Bahasa Disorder adalah sebagai berikut (p.58):
Fitur penting Campuran reseptif-Ekspresif Bahasa Disorder adalah adanya penurunan baik reseptif dan ekspresif perkembangan bahasa seperti yang ditunjukkan oleh nilai pada tindakan individu diberikan standar dari kedua reseptif dan ekspresif perkembangan bahasa yang secara substansial di bawah ini yang diperoleh dari ukuran standar non-verbal intelektual kapasitas (Kriteria A). ... Kesulitan bahasa mengganggu atau kerja prestasi akademik atau dengan komunikasi sosial (Kriteria B), dan gejala tidak memenuhi kriteria untuk Pembangunan Pervasif Disorder (Kriteria C).
Associated fitur dan gangguan termasuk (hal.59):
Percakapan keterampilan (misalnya, bergantian, mempertahankan topik a) sering sangat miskin atau tidak tepat.Defisit di berbagai bidang pengolahan informasi sensorik yang umum, terutama dalam pengolahan pendengaran temporal (misalnya, tingkat pengolahan, asosiasi suara dan simbol, urutan kata dan ingatan, perhatian dan diskriminasi suara).Gangguan fonologi, Belajar Gangguan, dan defisit dalam sambutannya persepsi sering hadir dan disertai oleh gangguan memori.Gangguan terkait lainnya adalah attention-deficit/hyperactivity Disorder, Koordinasi Pembangunan Disorder, dan enuresis
DSM-IV (hal.59) menambahkan catatan ini pada budaya tertentu dan fitur jender:
Penilaian pengembangan kemampuan komunikasi harus memperhitungkan individu budaya dan bahasa konten, khususnya untuk individu tumbuh di lingkungan bilingual.Ukuran standar perkembangan bahasa dan kemampuan intelektual nonverbal harus relevan untuk kelompok budaya dan bahasa.
Seorang psikolog sekolah, psikolog klinis, psikiater, atau spesialis yang memenuhi syarat lain harus membuat diagnosis ini. Jika ada cedera kepala atau masalah kesehatan lainnya (misalnya ensefalitis), seorang dokter harus pada tim diagnostik.
Bahasa gangguan dapat berdampak pada kinerja seseorang di banyak aspek kehidupan, dan tentu saja pengembangan kejuruan tidak terkecuali. Orang dengan FAS / ARND mungkin banyak bicara, tapi apa yang mereka katakan kadang-kadang bisa tampak tidak pantas atau tidak pada tempatnya. Mereka telah digambarkan sebagai "berbicara terlalu banyak dan terlalu cepat, tetapi memiliki sedikit untuk mengatakan" (Streissguth, LaDue, & Randels, 1988, hal 31). Kapasitas untuk output verbal dapat melebihi kemampuan mereka untuk memproses output verbal: Mereka mungkin merasa sulit untuk menyerap dan mengingat daftar instruksi sederhana. Namun, "observasi yang cermat dan pengujian mungkin dapat menggambarkan tingkat kompetensi yang tinggi dalam bahasa berdasarkan pemecahan masalah-non (misalnya Rancangan pada Wisc-R) dan dapat membantu untuk membedakan orang cacat mahasiswa bahasa dari janin anak dengan Sindrom Alkohol" (Wegmann, Colfax, Gray, & Reed, 1998, hal 31).
Bahasa reseptif Belajar untuk Mendengarkan dan Memahami Bahasa
Kelahiran
Bahkan bayi baru sadar suara-suara di lingkungan.Mereka mendengarkan pidato orang-orang dekat dengan mereka, dan ketakutan atau menangis jika ada kebisingan tak terduga.suara keras membangunkan mereka, dan mereka menjadi "masih" dalam menanggapi suara baru.
0-3 bulan
Mencengangkan, antara 0-3 bulan, bayi belajar untuk berpaling kepada Anda ketika Anda berbicara, dan tersenyum ketika mereka mendengar suara Anda.Bahkan, mereka tampaknya mengenali suara akrab Anda, dan akan menenangkan saat mendengar jika mereka menangis.Bayi di bawah tiga bulan juga akan menghentikan aktivitas mereka dan menghadiri erat dengan bunyi suara asing.Mereka sering akan merespon nada menghibur apakah suara itu sudah akrab atau tidak.
4-6 bulan
Kemudian, beberapa waktu 4 sampai 6 bulan bayi merespon kata "tidak".Mereka juga responsif terhadap perubahan nada suara, dan suara lain dari bicara.Misalnya, mereka dapat tertarik oleh mainan yang membuat suara, menikmati musik dan irama, dan melihat atau cara memprihatinkan tertarik untuk sumber segala macam suara baru seperti pemanggang, kicau burung, yang plok-klip dari 'kuku kuda atau deru mesin.
7-12 bulan
Untuk periode 12 bulan 7 adalah menarik dan menyenangkan seperti sekarang jelas bayi mendengarkan bila diajak bicara, berbalik dan melihat wajah Anda saat dipanggil dengan nama, dan menemukan kesenangan dari game seperti: "berputar-putar di" taman, "mengintip- oh "," Aku lihat "dan" tepuk-kue-"(Permainan ini sederhana dan memainkan jari akan memiliki nama daerah dan varian). Hal ini dalam periode ini bahwa Anda menyadari bahwa ia mengakui nama benda yang dikenal (" Daddy "," mobil "," mata "," Telepon "," tombol ") dan mulai untuk menanggapi permintaan (" Berikan Nenek ") dan pertanyaan (" jus Lagi? ").
1-2 tahun
Sekarang anak Anda menunjuk ke gambar di buku ketika Anda nama mereka, dan dapat mengarah pada beberapa bagian tubuh ketika ditanya.Dia juga dapat mengikuti perintah sederhana ("Push bus mana!") Dan sederhana memahami pertanyaan (“Dimana kelinci itu?").Anak Anda sekarang suka mendengarkan cerita-cerita sederhana dan menikmati saat Anda menyanyikan lagu-lagu atau katakan sajak.Ini adalah tahap di mana mereka akan cerita yang sama, sajak atau permainan berulang kali.
2-3 tahun
Saat anak Anda akan mengerti perintah tahap dua ("Dapatkan kaus kaki Anda dan menaruhnya di keranjang") dan memahami konsep-konsep atau makna yang kontras seperti panas / dingin, stop / go, di / pada dan baik / yuccy.Dia atau dia melihat suara seperti telepon atau bel dering dan dapat menunjukkan atau menjadi bersemangat, membuat Anda untuk menjawab, atau mencoba untuk menjawab sendiri.
3-4 tahun
tiga atau empat tahun Anda tua memahami sederhana "Siapa?", "Apa?"dan "Dimana?"dan "Dimana?”pertanyaan, dan dapat mendengar Anda ketika Anda menelepon dari ruangan lain.Ini merupakan usia di mana gangguan pendengaran bisa menjadi jelas.Jika Anda ragu tentang itu anak pendengaran Anda, melihat audiolog klinis.
4-5 tahun
Anak-anak dalam rentang usia ini menikmati cerita dan dapat menjawab pertanyaan sederhana tentang mereka.Dia atau dia mendengar dan memahami hampir semua yang dikatakan kepada mereka di rumah atau di pra-sekolah atau tempat penitipan. Kemampuan anak anda untuk mendengar dengan benar sepanjang waktu seharusnya tidak ragu-ragu.Jika Anda ragu tentang itu anak pendengaran Anda, melihat audiolog klinis.Jika Anda ragu tentang pemahaman bahasa, melihat-ahli patologi bahasa pidato.
Bahasa Ekspresif Belajar Berbicara, dan Penggunaan Bahasa
Kelahiran Bayi yang baru lahir membuat suara yang membiarkan orang lain tahu bahwa mereka mengalami kesenangan atau penderitaan.
0-3 Bulan
Bayi Anda tersenyum pada Anda ketika Anda masuk ke tampilan.Dia mengulangi suara yang sama banyak dan "berbisik dan goos" bila konten.Teriakan "membedakan".Itu berarti, bayi menggunakan menangis berbeda untuk situasi yang berbeda.Misalnya, salah satu menangis berkata "Aku lapar" dan yang lain mengatakan "Saya sakit".
4-6 bulan
Gemericik suara atau "bermain vokal" terjadi saat Anda sedang bermain dengan bayi Anda atau ketika mereka menempati sendiri bahagia.Mengoceh akan benar-benar mendapat dalam rentang usia ini, dan bayi Anda kadang-kadang akan terdengar seolah-olah dia adalah "berbicara".Ini "pidato-seperti" mengoceh mencakup banyak suara termasuk) bilabial (dua bibir bunyi "p", "b" dan "m".Bayi dapat memberitahu Anda, menggunakan suara atau isyarat bahwa mereka menginginkan sesuatu, atau ingin Anda melakukan sesuatu. Mereka bisa membuat sangat "mendesak" suara untuk meminta Anda ke dalam tindakan.
s7-12 bulan
Hal ini karena sekarang termasuk konsonan lebih, serta vokal panjang dan pendek.mDia menggunakan pembicaraan atau suara lainnya (yaitu, selain menangis) untuk mendapatkan perhatian dan memegang dengan jelas.'s Bayi pertama Anda Dan kata-kata (mungkin tidak berbicara dengan sangat) telah muncul!("Mama", "Doggie", "Night" Night, "Bye Bye").
1-2 tahun
Sekarang bayi Anda adalah mengumpulkan kata-kata lebih banyak setiap bulan berlalu.bahkan ia akan menanyakan pertanyaan 2 kata seperti "Di mana bola?""Apa itu?""Lebih chippies"? "Apa itu,?" Dan menggabungkan dua kata dengan cara-cara lain untuk membuat Tahap 1 Kalimat Jenis("Birdie pergi", "Tidak" anjing, "push Lagi").Kata-kata menjadi lebih jelas sebagai konsonan awal lebih banyak digunakan dalam kata-kata.
2-3 tahun
atau tiga tahun dua's kosakata Anda meledakDia tampaknya memiliki kata untuk hampir segalanya.Ucapan-ucapan biasanya satu, dua atau tiga kata yang panjang dan anggota keluarga biasanya dapat memahami mereka.Anak Anda mungkin meminta, atau menarik perhatian Anda untuk sesuatu dengan menamai itu ("Gajah") atau salah satu atributnya ("Big)!" atau komentar ("Wow!").
3-4 tahun
Kalimat menjadi lagi sebagai anak Anda dapat menggabungkan empat atau lebih kata-kata berbicara. Mereka tentang hal-hal yang terjadi jauh dari rumah, dan tertarik dalam berbicara tentang pra-sekolah, teman, wisata dan pengalaman menarik. Pidato biasanya fasihdan jelas dan "orang lain" dapat memahami apa yang dikatakan anak Anda sebagian besar waktu.Jikagagapterjadi, melihat-bahasa patolog pidatoGagap bukan merupakan bagian normal dari belajar untuk berbicara, dan tidak adalahsuara serak yang persisten.
4-5 tahun
Anak Anda berbicara dengan jelas dan fasih dalam yang mudah untuk mendengarkan-suara-.Ia dapat membangun dan rinci kalimat panjang ("Kami pergi ke kebun binatang tapi kami harus pulang lebih awal karena Josie merasa tidak enak badan").Dia atau dia bisa kirim dan terlibat cerita panjang menempel topik, dan menggunakan "dewasa seperti" tata bahasa.Kebanyakan suara diucapkan dengan benar, meskipun ia mungkin lisping sebagai empat tahun, atau, pada lima, masih memiliki kesulitan dengan "r", "v" dan "th".Anak Anda dapat berkomunikasi dengan mudah dengan orang dewasa dan akrab dengan anak-anak lainnya.Mereka mungkin mengatakan fantastis "cerita tinggi" dan orang asing terlibat dalam percakapan saat Anda pergi bersama-sama.
Tanda-tanda gangguan ekspresif bahasa-menerima
Berikut ini adalah gejala yang paling umum gangguan komunikasi.Namun, setiap anak mungkin mengalamigejala yang berbeda.
a.Mungkin tidak berbicara sama sekali, atau mungkin memiliki kosakata yang terbatas untuk usia mereka.
b.Apakah kesulitan memahami petunjuk sederhana atau tidak mampu untuk nama benda.
c.Menunjukkan masalah dengan sosialisasi.
d.Ketidakmampuan untuk mengikuti arah tetapi pemahaman menunjukkan dengan rutin, arah berulang-ulang.
e.Echolalia (mengulangi kembali kata-kata atau frasa baik langsung atau di lain waktu.).
f.Ketidaksesuaian tanggapan ke "wh" pertanyaan
g.Kesulitan tanggapan yang sesuai untuk: ya / tidak pertanyaan, baik / atau pertanyaan, siapa / apa / mana pertanyaan, ketika / mengapa / bagaimana pertanyaan
h.Mengulang kembali pertanyaan pertama dan kemudian menanggapi mereka
i.Aktivitas tinggi tingkat dan tidak menghadiri untuk bahasa lisan
j.Jargon (misalnya bicara tidak dapat dimengerti)
k.Menggunakan "hafal" frase dan kalimat
l.Mereka mungkin memiliki masalah dengan kata-kata atau kalimat, baik pemahaman dan berbicara mereka
m.Belajar masalah dan kesulitan akademis
Sementara banyak bicara dan pola bahasa dapat disebut "bayi bicara" dan merupakan bagian dari anak normal pembangunan muda, Mereka bisa menjadi masalah jika mereka tidak terlalu besar seperti yang diharapkan.Dengan cara ini suatu keterlambatan dalam pidato awal dan bahasa ataupola pidato awal dapat menjadi gangguan yang dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar lebih mudah untuk belajar bahasa dan kemampuan komunikasi sebelum usia 5.Gangguan mungkin mirip masalah lain atau kondisi medis.Always consult your child's physician for a diagnosis.Selalu berkonsultasi dengan dokter anak Anda itu untuk diagnosis.
Kemungkinan penyebab
Komunikasi gangguan perkembangan atau mungkin diperoleh.Penyebabnya diyakini berdasarkan permasalahan biologiseperti kelainan perkembangan otak, atau mungkin oleh paparan racun selama kehamilan, seperti dilecehkan zat atau racun lingkungan seperti timbal.Faktor genetik kadang-kadang dianggap sebagai penyebab kontribusi dalam beberapa kasus.Beberapa penyebab gangguan berbicara dan bahasa termasuk gangguan pendengaran, gangguan neurologis, cedera otak, keterbelakangan, penyalahgunaan obat, gangguan fisik seperti bibir sumbing atau langit-langit, dan penyalahgunaan vokal atau penyalahgunaan.Namun, penyebabnya tidak diketahui.
Untuk alasan yang tidak jelas, anak laki-laki yang didiagnosis dengan gangguan komunikasi lebih sering dibandingkan anak perempuan. Gangguan komunikasi sering memiliki gangguan perkembangan lain.Sebagian besar anak-anak dengan komunikasi gangguan dapat berbicara pada saat mereka memasuki sekolah, mereka terus memiliki masalah dengankomunikasi. Anak-anak usia sekolah sering memiliki masalah pemahaman dan merumuskan kata-kata.Lebih kesulitan dengan pengertian atau mengungkapkan ide-ide abstrak.Diagnosis untuk gangguan bahasa ekspresif-menerima
Sebagian besar anak dengan gangguan komunikasi yang pertama disebut dan evaluasi untuk pidato bahasa ketika mereka penundaan berkomunikasi dicatat.Seorang psikiater anak biasanya dikonsultasikan, terutama ketika masalah emosional atau perilaku .juga hadir.Sebuah evaluasi menyeluruh juga melibatkan pengujian psikometri (pengujian yang dirancang untuk menilai logis kemampuan penalaran, reaksi terhadap situasi yang berbeda, dan berpikir kinerja, bukan tes pengetahuan umum) dan psikologis pengujian kemampuan kognitif.
Ada berbagai gangguan bahasa reseptif misalnya bahasa mungkin agak tertunda dan ekspresif bahasa mungkin akan sangat tertunda.Mengetahui jenis-ekspresif delay reseptif bahasa campuran ini penting karena perpecahan. Untuk satu anak mungkin menunjukkan kemampuan bahasa sangat tertunda menerima dan hanya sedikit tertunda expressive language.bahasa ekspresif.Kesulitan bahasa reseptif kemungkinan besar akan berdampak signifikan pada kemampuan untuk mengikuti arah dan memahami instruksi kelas.Anak ini akan membutuhkan bantuan ekstra (petunjuk tertulis, satu-satu waktu) agar sukses.
Banyak masalah pidato perkembangan daripada fisiologis, dan dengan demikian mereka menanggapi instruksi perbaikan. Bahasa pengalaman sangat penting untuk perkembangan anak muda itu seorang.Di masa lalu, anak-anak dengan gangguan komunikasisecara rutin dikeluarkan dari kelas reguler untuk pidato bahasa individu dan terapi.Ini masih terjadi di parahinstances, tetapi tren ke arah menjaga anak dalam arus utama sebanyak mungkin.Untuk mencapai initujuan, kerja sama antara guru, terapis bicara dan bahasa, audiolog, dan orang tua sangat penting.perbaikan dan koreksi ini dicampur ke dalam kurikulum kelas reguler dan alam lingkungananak.
Pengobatan untuk gangguan komunikasi
Sebuah upaya yang terkoordinasi antara orang tua, guru, dan bicara / bahasa dan profesional kesehatan mental memberikan dasaruntuk strategi pengobatan individual yang mungkin memasukkan atau kelompok, kelas khusus perbaikan individu, atau khusus resources.sumber daya..teknik pendidikan khusus digunakan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dalam bidang defisit.pendekatan membantu anak membangun nya / kekuatan untuk mengatasi / nya defisit komunikasinya.