Minggu, 23 Oktober 2011

Tugas Psikologi Internet

Perbandingan NOKIA.com dan Sonyericsson.com

NOKIA.com

Sonyericsson.com

Ada fitur bahasa Indonesia dan Inggris

Ada fitur bahasa Indonesia dan Inggris

Mereknya keluaran terbaru

Ada yang tipe Touch Screeen, qwerty, Stick, Flip, Penggeser

Dipakai di hampir semua lapisan

Jika dijual lagi, harganya agak jatuh

Memiliki galeri di Mal-mal seluruh Indonesia yang dinamakan Sentra Ponsel

Yang paling baru tipe Xperia

Harga terjangkau dari yang murah sampai yang mahal

Kebanyakan tipe Android

Ada yang Touch Screeen, qwerty, Stick, Flip, Penggeser

Utk tipe-tipe tertentu, sangat enak untuk mendengarkan musik

Kebanyakan tipe N, C, dan X

Perbandingan Facebook dengan Twitter

Facebook (FB)

Twitter

Mudah diakses (facebook.com)

Mudah diakses (twitter.com)

Dipakai hampir di semua masyarakat

Tiap detik ada aja urang yang update status

Mudah untuk mengganti foto, memasukkannya ke dalam FB

Susah untuk mengganti maupun masukin foto

Bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati

Tdk bisa chat

Setiap menit ada saja orang yang update status

Belum tentu semua orang punya

Paling banyak yang menggunakan adalah anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia juga ada yang punya FB

Kebanyakan yang memiliki adalah selebriti

Mudah untuk chating-chatingan

Bisa menjadi curahan isi hati

Jadi, FB lebih populer dibanding Twitter.

Aspek Psikologis Teknologi Internet

Pro :

Ø Menambah wawasan dan pengetahuan

Ø Bisa mengetahui bero=ita yang terjadi di seluruh dunia

Ø Bisa menyalurkan hobby, misal seperti Norman Khamaru

Ø Bisa download lagu, anti virus, SN, dsb

Kontra :

Ø Membuat anak jadi tambah agresif jika main game online yang bertema peperangan,

Ø Bisa membuat virus untuk PC yang sangat berbahaya

Ø Bisa membuat orang lupa waktu, makan, dan tidur sehingga jatuh sakit

Ø Bisa untuk mencuri data-data penting, memasukkan video porno, dan lain-lain yang negatif.

Pemanfaatan yang baik jika pemakaian internet harus ingat waktu, diawasi oleh orang yang lebih tua, memakai internet jika ada tugas yang memerlukan browsing sehingga tidak memakan banyak biaya, dsb. Internet juga berdampak baik bagi anak-anak dan remaja misalkan menambah wawasan dan pengetahuan, isa mengetahui berita yang terjadi di seluruh dunia, bisa menyalurkan hobby, misal seperti Norman Khamaru, bisa download lagu, anti virus, SN, mencari tugas yang membutuhkan browsing-browsing, bisa berteman sebanyak-banyaknya di dunia maya tapi harus protect diri juga agar tidak menjadi korban penculikan via dunia maya ^_^.

Selasa, 10 Mei 2011

STRESS

1. Apakah itu stres, berikan penjelasannya??

Istilah stres dikenalkan oleh Hans selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan kepadanya. Dengan kata lain, istilah stres dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang disulut oleh beberapa faktor psikologis atau faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut. Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stres tidak saja kondisi yang menekan seseorangataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun rekasinya terhadap tekanan tadi, tapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari, 1989). Karena banyaknya definisi mengenai stres, maka Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu Stimulus, Proses, dan Respon.

2. Apakah kaitan stres terhadap psikologi lingkungan, jelaskan??

Dalam mengulas dampak lingkungan binaan terutama bangunan terhadap stres psikologis, Zimring (dalam Prawitasari, 1989) mengajukan 2 pengandaian. Yang pertama, stres dihasilkan oleh proses dinamik ketika orang berusaha memperoleh kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan dan tujuan apa yang disajikan oleh lingkungan. Proses ini dinamik karena kebutuhan-kebutuhan individual sangat bervariansi sepanjang waktu dan berbagai macam untuk individu. Cara penyesuaian atau pengatasan masing-masing individu terhadap lingkungannya juga berbagai macam.

Pengandaian kedua adalah bahwa variabel transmisi harus diperhitungkan bila mengkaji stres psikologis yang disebabkan oleh lingkungan binaan. Misalnya perkantoran, status, anggapan tentang kontrol, pengaturan ruang dan kualitas lain dapat menjadi variabel transmisi yang berpengaruh pada pandangan individu terhadap situasi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah situsai tersebut menimbulakn stres atau tidak.

3. Apakah stres bisa mempengaruhi individu dalam lingkungan, bagaimana hal itu bisa terjadi, jelaskan dan beri contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari??

Stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah naik, sebagai reaksi stimulus yang tidak dinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stres akan memasuki tahapan kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stres. Dalam berbagai kasus, stimulus yang tidak menyenangkan tersebut muncul berkali-kali, sehingga reaksi terhadap stres akan berkurang dan melemah.

Proses ini secara psikologis dinamakan adaptasi. Hal ini terjadi karena sensitifitas neuropsikologis semakin melemah dan melalui penelitian kognitif situasi stress tersebut berkurang (Iskandar, 1990).

Bangunan yang tidak memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial merupakan sumber stres bagi penghuninya. Apabila perumahan tidak memperhatikan kenyamanan penghuni, misalnya pengaturan udara yang tidak memadai, maka penghuni tidak dapat beritirahat dan tidur dengan nyaman. Akibatnya, penghuni seringkali lelah dan tidak dapat bekerja secara efektif dan ini akan mempengaruhi kesejahteraan fisik maupun mentalnya. Demikian pula apabila perumahan tidak memperhatikan kebutuhan rasa aman warga, maka hal ini akan berpengaruh negatif pula. Penghuni akan selalu waspada dan akan mengalami kelelalahn fisik maupun mental. Hubungan antara manusia sangat penting, untuk itu perumahan sebaiknyaa juga memperhatikan kebutuhan tersebut.

Pembangunan perumahan yang tidak menyediakan tempat umum dimana para warga dapat berinterkasi satu sama lain akan membuat mereka sulit berhubungan satu sama lain. Atau perumahan yang tidak memperhatikan ruang pribadi masing-masing anggotanya merupakan sumber stress bagi penghuninya (Zimring dalam Prawitasari, 1989).

Keberhasilan suatu bangnan perumahan atau daerah pemukiman dalam terminologi perilaku dapat digunakan penilaian berdasarkan tingkat kepuasan penghuni dan kebetahan penghuni di tempat tinggalnya.

Contoh:

Sebuah kelas di sebuah sekolah ternama yang berada di dekat jalan tol, tiap hari selalu mendengar suara kendaraan yang lalu-lalang. Hal ini sering membuat semua siswa yang menempati ruangan tersebut jadi tidak konsentrasi dalam mendengarkan apa yang diajarkan guru, sehingga murid-murid tersebut kadang tidak mendengar apa saja yang diucapkan atau dijelaskan oleh guru di depan kelas.

Minggu, 17 April 2011

PRIVASI

Privasi merupakan tingkatan interkasi keterbukaan atau yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan yaitu adanya keinginan berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).

Rapoport (dalam soesilo, 1988) mendefinisikan pricasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk memcapai interaksi seperti yang dinginkan. Hal ini agak berbeda dengan yang dikatakan oleh Marshall (dalam Wrightman dan Deaux, 1981), dan ahli-ahli lain seperti Bates, 1984; Kira, 1966 dalam Altman, 17975 yang mengatakan bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari ketelibatan dengan orang lain dan sosialnya.

Menurut Altman privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan orang lain. Definisi ini mengandung beberapa pengertian yang lebih luas. Pertama, unit soaial yang digambarkan bisa berupa hubungan antara individu denagn individu, individu dengan kelompoknya dan seterusnya. Kedua, penjelasan privasi sebagai proses dua arah: yaitu pengontrolan input yang masuk ke individu dari luar atau output dari individu ke orang lain. Ketiga, definisi ini menunjukkan suatu kontrol yang selektif atau suatu proses yang aktif dan dinamis.

Kemudian Altman menjelaskan beberapa fungsi privasi. Pertama, privasi adalah pengaruh dan pengontrol interkai interpersonal. Kedua, merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain. Dan ketiga, memperjelas konsep diri dan identitas diri.

Dalam hubungannnya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya. Ada saat-saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan menyendiri serta terpisah dari orang lain (privasi tinggi). Untuk mencapai hal tersebut, dia akan mengontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku, yang digambarkan oleh Altman sebagai berikut:

a) Perilaku verbal

Dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal, sejauh mana orang lain boleh berhubungan dengannya.

b) Perilaku non verbal

Dilakukan dengan menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidak senang.

c) Mekanisme kultural

Budaya mempunyai bermacam-macam adat istiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui oleh banyak orang pada budaya tertentu (Altman, 1975; Altman & Chemers dalam Dibyo Hartono, 1986).

d) Ruang prsonal

Yaitu salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Sommer (dalam Altman, 1975) mendefinisikan beberapa karakteristik ruang personal. Pertama, daerah batas diri yang diperbolehkan dimasuki oleh orang lain. Kedau, ruang personal itu tidak berupa pagar yang tampak mengelilingi seseorang dan terletak pada suatu tempat tetapi batas itu melekat pada diri dan dibawa kemana-mana. Ketiga, sama denga privasi ruang personal adalah batas kawasan yang dinamis, yang erubah-ubah besarnya sesuai dengan waktu dan situasi.

Holahan (1982) menyatakan enam jenis privasi, yaitu

1) Keinginan untuk menyendiri,

2) Keinginan untuk menjauhi pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas,

3) Kecenderunag untuk intim terhadap orang-orang tertentu (keluarga), tetapi jauh dari semua orang lain,

4) Keinginan untuk merahasiakan jati diri agar tidak dikenal orang lain,

5) Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak,

6) Keinginan untuk tidak terlibat denga tetangga.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Privasi

Faktor Personal. Marshall (dalam Gifford, 1987) menyatakan baahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi.

Sementara itu Alden dan kawan-kawan (dalam Gifford, 1987) menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi.

Faktor Situasoanal. Beberapa hasil penelitian tentang privasi dala dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan denga seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987).

Penelitian Marshall (dalam Gifford, 1987) tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi dalam rumah antara lain disebabkan oleh setting rumah. Setting disini sangat berhubungan seberapa sering para penghuni berhubungan dengan orang, jarak antar rumah dan banyaknya tetangga sekitar rumah.

Faktor budaya. Penemuan dari beberapa peneliti tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku iban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).

2. Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku

Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah untuk mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial.

Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mencatat bahwa pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalam tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan.

Westin (dalam Holahan, 1982) mengatakan bahwa ketertutupan terhadap informasi personal yang selektif, memenuhi kebutuhan individu untuk membagi kepercayaan denga orang lain.

Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh Westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari.

Selain itu, rivasi juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi, yaitu menganal dan menilai diri sendiri (Altman, 1975; Sarwono, 1992; Holahan, 1982). Proses mengenal dan menilai diri sendiri diri ini tergantung pada kemampuan untuk mengatur sifat dan gaya interaksi sosial dengan orang lain.

PERSONAL SPACE (RUANG PERSONAL)

Istilah personal space atau ruang personal pertama kali digunakan oleh Katz pasa tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling sesorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Golfman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadag menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian,m antara lain:

Pertama, ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang

lain.

Kedua, ruang personal sebenarnya berdekatang dengan diri sendiri.

Ketiga, pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.

Keempat, ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.

Kelima, ruang personal berhubungan secaa langsung dengan jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan saling membelakangi, dan searah.

Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bhawa dalam interaksi sosial terdapat 4 zona spasial meliputi: jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik.

Pertama, jarak intim adalah jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0-18 inchi. Menurut Hall pada jarak akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas sekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukkan pancaindera.

Zona kedua adalah personal distance(jarak pribadi), yang memiliki jarak antara 1,5 – 4 kaki. Jarak ini adalah karakteristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. Gangguan di luar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua: fase dekat (1,5-2,5 kaki) dan fase jauh (2,5-4 kaki).

Daerah ketiga adalah jarak sosial (social distance), yang mempunyai jarak 4 - 25 kaki dan merupakan jarak kauh normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis.

Fase yang ketiga adalah fase jauh atau dalam jarak 7 – 12 kaki, seringkali lebih formal, dimana pengamatan visual terinci seringkali terlewatkan, meskipun seluruh tubuh orang lain dapat dengan mudah dilihat.

Daerah yang terakhir adalah Zona Publik, yaitu pada jarak 12 – 25 kaki atau jarak dimana isyarat-isyarat komunikasi lebih sedikit dibandingkan dengan daerah-daerah terdahulu.